REVIEW FILM - DEMON SLAYER: KIMETSU NO YAIBA THE MOVIE: MUGEN TRAIN
Kali ini kami dari review film top ingin meriview sebuah film yang berjudul Demon Slayer : Kimetsu no Yaiba The Movia : Mugen Train
Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba the Movie: Mugen Train melanjutkan akhir kisah serialnya (tontonlah kalau belum), di mana Tanjiro (Natsuki Hanae), Nezuko (Akari Kitō), Inosuke (Yoshitsugu Matsuoka), dan Zenitsu (Hiro Shimono), menjalankan misi terkait gangguan iblis di sebuah kereta, yang telah menghilangkan banyak orang. Turut bergabung adalah Rengoku (Satoshi Hino) sang Hashira api. Tanjiro sendiri berniat menemui Rengoku, guna mencari tahu tentang teknik pernapasan Hinokami Kagura warisan ayahnya.
Gangguan di kereta tersebut rupanya disebabkan oleh Enmu (Daisuke Hirakawa), si pemegang posisi “Lower Moon One”, yang makin kuat berkat suntikkan darah dari Muzan. Berbeda dengan kebanyakan iblis lain, Enmu tidak diberi latar belakang untuk memancing simpati penonton (Demon Slayer selalu menekankan bahwa iblis adalah makhluk malang, yang kejahatannya didorong oleh nasib tragis), sehingga penokohannya tak sekaya kompatriotnya, semisal Rui. Tapi kekurangan tersebut ditutupi oleh kemampuan yang tetap membuat sosoknya berkesan.
Tanpa menghitung Muzan, sejauh ini Enmu adalah iblis paling keji. Dia memanfaatkan mimpi indah korban untuk menghabisi mereka. Tanjiro, Inosuke, Zenitsu, bahkan Rengoku, sempat terjebak tipu daya itu. Dan melalui alam mimpi karakternya pula, Mugen Train memamerkan kehebatannya menyeimbangkan elemen drama dan humor. Jika mimpi Inosuke dan Zenitsu memproduksi tawa tanpa henti, maka kenangan Tanjiro dan Rengoku akan keluarga masing-masing, bakal jadi hal pertama yang menembus dinding emosi penontonnya.
Bukan kejutan apabila penonton mengharu biru menyaksikan mimpi Tanjiro. Di titik ini, saya bahkan bisa meneteskan air mata cuma dengan melihat foto keluarganya, yang dipakai mengisi kredit penutup episode 19. Justru keberhasilan memunculkan ikatan emosi dengan Rengoku yang belum lama kita kenal adalah pencapaian tersendiri. Belum lagi sensitivitas yang ditunjukkan oleh sutradara Haruo Sotozaki dalam mengemas momen emosional.
Simak saat filmnya mengajak kita mengunjungi inti jiwa Tanjiro, yang berupa hamparan perairan luas tak berujung. Gambarnya indah, namun keputusan memakai keheningan, meniadakan satu pun suara, merupakan kunci. Sedangkan di momen lain, sulit menahan gempuran rasa, setiap lagu Kamado Tanjirou no Uta (dengan berbagai variasinya) mulai terdengar.
Rasanya saya tidak perlu panjang lebar mendeskripsikan adegan aksi film ini. Luar biasa bagaimana Mugen Train mampu melahirkan parade pertempuran seberwarna dan sedinamis ini, meski hanya mengambil mayoritas latar di atas kereta. Kemudian datanglah sebuah twist. Sebuah titik balik, yang sejatinya terkesan out-of-nowhere. Tapi siapa peduli ketika titik balik itu berujung klimaks luar biasa intens? Klimaks yang akan membuatmu mengkhawatirkan nasib tokoh-tokohnya akibat mengira semua harapan telah hilang. Klimaks yang ditutup oleh pilihan konklusi sempurna, yang menyiratkan betapa berbahaya ancaman para iblis upper moons, sembari memperkuat tuturan filmnya seputar heroisme.

Comments
Post a Comment