REVIEW FILM - BLACKPINK: LIGHT UP THE SKY (Documenter,Korean)
Kali ini kami dari review film top ingin mereview sebuah film yang berjudul Blackpink: Light Up The Sky.
Di awal cerita, kita melihat Jisoo, Jennie, Rosé, dan Lisa, berdiri di atas panggung dalam rangka showcase debut. Mereka tersenyum, namun ada kegugupan. Blackpink yang gugup merupakan pemandangan langka. Jelang akhir, kita melihat situasi serupa. Lisa yang biasanya cerah (anggota lain menganggapnya “vitamin” dalam grup) tampak tegang. Bedanya, itu adalah pemandangan di belakang panggung, sebelum mereka mencatatkan sejarah sebagai group wanita Kpop pertama yang tampil di Coachella, tiga tahun selepas debut.
Dua momen di atas menyiratkan dua hal: bahwa ini perjalanan luar biasa yang pantas dibuatkan dokumenter, dan bahwa seglamor apa pun, Blackpink tetap manusia biasa. “We can do it. It’s fine”, ucap mereka sambil berpelukan sebelum panggung bersejarah itu. Bahkan setelah menjual jutaan keping album, menyambangi ribuan panggung, punya tiga video klip yang menembus satu milyar penonton di Youtube, serta berkolaborasi dengan nama-nama seperti Lady Gaga, Dua Lipa, Selena Gomez, dan Cardi B, keempatnya masih seperti kita. Tidak sempurna.
Masalahnya, industri tempat mereka bernaung, menuntut kesempurnaan. Persoalan itu dibicarakan, sembari filmnya memberi segmen individual bagi tiap personel. Latihan bertahun-tahun, 14 jam selama 13 hari beruntun dengan jatah libur cuma sehari tiap dua minggu. Hasilnya adalah kesuskesan global. Tapi di saat bersamaan, kehidupan personal jadi korban, sesuatu yang disebut Rosé sebagai “lubang di hidupku”. Rutinitas harian mereka luar biasa melelahkan, khususnya kala menjalani tur dunia tahun lalu. Di atas panggung, ada kebahagiaan terasa, namun setibanya di hotel, kesepian kembali menyerbu.
Kondisi tersebut dialami mayoritas idola Kpop, tetapi untuk Blackpink (yang seperti banyak grup zaman sekarang) bukan cuma terdiri atas anggota asli Korea, tingkat kesulitannya berlipat ganda. Lisa dari Thailand, sedangkan Rosé dan Jennie, meski berdarah Korea, tumbuh di Selandia Baru. Satu poin yang saya suka dari Light Up the Sky adalah caranya menangani perbedaan itu, dengan membiarkan keempatnya bicara memakai bahasa masing-masing. Menyegarkan, karena meski kerap melakukannya di variety show dan talk show, fungsinya cuma hiburan singkat. Pun kerap muncul pertanyaan, “Apa kamu sudah bermimpi dalam Bahasa Korea?”. Warga Korea Selatan begitu bangga terhadap negara dan kulturnya, namun seringkali pengekspresiannya salah arah, sehingga berujung xenofobia dan rasisme.
Satu hal yang agak disayangkan, dokumenter ini lebih terasa seperti rekap ketimbang eksplorasi. Banyak hal ditampilkan, dari kisah personal Blackpink, sampai sejarah Kpop beserta kultur industrinya, tapi mayoritas cuma numpang lewat. Caroline Suh belum piawai bercerita, termasuk dalam membangun momentum. Momen Coachella semestinya lebih "besar" dan emosional, meski bagi para penggemar (termasuk saya), sudah cukup memancing haru. Tapi tidak masalah. Saya percaya akan ada film-film lain mengenai Blackpink, entah membahas aspek lebih kelam dari perjuangan mereka, atau berfokus pada sisi artistik keempatnya. Selalu akan ada kisah yang layak diangkat. Because Blackpink is the revolution that light up the sky in your area.

Comments
Post a Comment